Judul
Novel : Dia, Tanpa Aku
Penulis : Esti Kinasih
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Umum
Tahun
terbit : Januari 2008
Tebal
halaman : 280 halaman
Esti Kinasih, 9 September 1971
adalah salah satu wanita berbakat yang kaya akan kreativitas. Segala
kreativitas dan pengalaman hidup selalu ditorehkannya dalam sebuah cerita yang
bisa mencapai ratusan halaman. Dengan melewati berbagai macam variasi edita
bahasa, akhirnya setiap cerita yang dicurahkannya itu dipublikasikan dalam
bentuk novel teenlit yang tentu saja sangat laku dipasaran. Itulah mengapa
wanita 1971 ini yang akrabnya di sapa mba Esti memiliki banyak penggemar
khususnya mereka para remaja yang sangat turut berpartisipasi dan tertarik
dengan novel-novel remaja yang ditulis oleh mba Esti.
Dia,
Tanpa Aku adalah novel keempat yang dirilis oleh mba Esti. Novel ini bercerita
tentang seorang cowok bernama Ronald, kelas 2 SMA yang sudah lama naksir Citra
yang masih kelas 3 SMP. Tapi Ronald mengurunkan niatnya untuk PDKT. Ia mau menunggu Citra masuk SMA, maka
dari itu sepulang sekolah ia selalu mengajak sahabatnya, Andika ke
sekolah Citra untuk mengamati Citra dari kejauhan. Segala informasi-informasi
seputar Citra seperti hobi, cita-cita dan bahkan foto tersimpan di buku
catatannya. Keisengan Citra lah yang mempertemukannya dengan Ronald, tapi hanya
sebatas pertemuan dan Citra tidak sempat mengenal Ronald.
Waktunya menyambut Citra di SMA untuk mengungkapkan isi hatinya
telah di persiapkannya dengan menabung uang untuk membeli baju dan sepatu
khusus yang akan di persembahkannya untuk Citra, bahkan Ia rela membawa lontong
dan bakwan udang ke sekolah untuk di jual kepada teman-temannya.
Saat yang di tunggu Ronald selama berbulan-bulan akhirnya tiba.
Citra masuk SMA. Namun Ronald kecewa karena ternyata Citra masuk ke SMA yang
sama dengan adiknya, Reinald dan sekelas pula. Ronald memutuskan untuk menemui
Citra alasannya karena Ia takut keburu direbut orang. Namun keinginan dan
harapan Ronald untuk menemui Citra tidak terwujud. Di temani Andika,
Ronald pergi ke rumah Citra. Tepat di depan gang rumah Citra, Andika menyerahkan
buket bunga yang masih mekar. Usai itu Ronald berbalik dan semuanya seakan
menjadi hitam, kelam dan tenggelam. Ronald tewas ketika mobil sedan dengan
kecapatan maksimum datang dari arah yang tak di duga.
Sejak kematian Ronald, Reinald sangat terpukul. Sempat timbul
kebencian di hati Reinald pada Citra. Reinald selalu menganggap kalau Citra lah
yang membunuh abangnya. Kebencian Reinald mulai membara ketika Citra berdiri di
hadapannya, tetapi sebelum Citra berbicara. Ia mengajak Citra untuk datang kerumahnya.
Di rumah, Reinald mengingatkan Citra kembali pada Ronald dengan menyerahkan
foto Ronald, karena sebelumnya Ronald pernah menolong Citra karena
keisengannya. Namun Citra sedikit pun tidak mengingat wajah itu.
Keesokan harinya, Reinald menyuruh Roni pindah tempat duduk bersama
Loni dan Reinald sendiri duduk dengan Citra. Hari demi hari di lewati Citra di
temani Reinald. Tidak pernah sedikit pun Citra lepas dari pengetahuaanya.
Kadang-kadang Citra bosan dan ingin memberontak, tetapi Reinald tak merespon
itu.
Suatu hari Citra lupa membawa buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan.
Citra langsung panik. Namun kepanikan itu mereda ketika Reinald
menyodorkan buku cetaknya pada Citra. Alhasil, saat jam pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan, Reinald dihukum keluar kelas karena tidak membawa buku cetak.
Hari-hari dihadapi Citra dengan senyuman di temani Reinald. Kini Ia
tidak takut keisengannya membuat Ia sial. Karena ada Reinald yang selalu berada
di sampingnya. Namun bayang-bayang Ronald terus mendatangi Reinald. Akhirnya Ia
memutuskan agar tidak dekat pada Citra. Mulai dari berangkat sekolah, ke
kantin, duduk dan aktivitas lain yang biasa mereka lakukan bersama kini tidak
lagi berjalan dengan kebersamaan. Reinald selalu mencari alasan agar Ia tidak
dekat dengan citra. Hingga Citra merasa bingung dan kesepian.
Kesendirian itu tidak berlansung lama saat Reinald menyadari bahwa
bukan Citra penyebab kematian abangnya. Hingga pada suatu saat, Reinald
mengajak Citra ke rumahnya untuk belajar bahasa inggris karena ada ulangan.
Ternyata bukan Cuma mereka berdua di rumah melainkan ada Andika juga.
Sebelum belajar, Citra menyuruh Reinald menyetel radio. Dengan
malas Reinald meminjam radio ke kamar Bi Minah, pembantunya. Reinald mulai
memutar-mutar turning. Tiba-tiba gerakan tangannya berhenti. Samar-samar di
dengarnya lagu Gleen-Dewi yaitu lagu kesukaan abangnya.
Ketika lagu itu berakhir, suara sang penyiar cewek lansung membuka
pembicaraan. Ia memberi tahu bahwa ada tamu di studionya yang di undang atas
permintaan pendengar. Suara itu seperti tidak asing di telinga Reinald. Suara
itu persis dengan suara almarhum abangnya. Sang tamu itu mulai menceritakan
kisah cinta pertamanya yang tidak pernah terwujud dan juga bercerita tentang
adik lelakinya. Ia memiliki gebetan bernama Devi bukan Citra.
Sesaat setelah cerita itu berakhir, Samar-samar terdengar lagu yang
sama ketika di awal perjumpaan tadi disusul dengan suara sang penyiar yang
mengatakan siapapun yang ingin berinteraksi langsung dengan sang tamu, ada satu
nomor telepon yang bisa dihubungi.
Di deringan pertama, sang tamu langsung menjawab Citra. Mereka
berbicara sangat akrab. Ketegangan Reinald bertambah saat Citra memberi hp nya
pada Reinald dari perintah sang tamu. Di telepon sang tamu berpesan agar selalu
menjaga Citra dan sang tamu juga bilang bahwa Ia sayang dengn Reinald.
Kata-kata itu jelas berarti bahwa tamu itu adalah Ronald, almarhum abangnya.
Keesokannya Reinald mengajak Citra ke makam abangnya. Reinald
menjelaskan semuanya kepada citra. Tapi Citra hanya bisa diam membungkam.
Mereka hanya bisa menyampaikan doa bagi seseorang yang kini dipeluk bumi dan
tidur dalam diam.
Berdasarkan kutipan novel di
atas, Dia Tanpa Aku menggunakan bahasa yang menarik dan mudah dipahami. Bahkan
bahasa-bahasa yang terkandung didalamnya seolah-olah dikutip dari bahasa-bahasa
yang memang sedang trend dikalangan remaja. Itulah salah satu alasan mengapa
novel hasil karya Esti Kinasih ini memperoleh simpati yang luar biasa dari para
remaja Indonesia. Selain itu, konflik yang disajikan dalam novel sangat
menarik. Kisah cinta yang diuraikan dalam novel bersifat sederhana serta
memberikan gambaran bagaimana kehidupan remaja saat in, sehingga tidak
menimbulkan penafsiran yang negative ketika membaca novel ini.
Adapun kekurangan novel ini
hamper tidak ada. Hanya saja terdapat beberapa pemborosan kata yang terkandung
secara tersurat dalam beberapa kalimat tertentu. Namun kekurangan ini sangatlah
kecil, sehingga akan sulit untuk nampak saat orang membacanya.
Berdasarkan kelebihan dan
kekurangan novel Dia Tanpa Aku yang telah diuraikan di atas, kelebihan novel
lebih mendominasi dibanding dengan
kekurangannya. Sehingga novel tersebut layak untuk dipublikasikan.
Nama : Diyah Octavianti
NPM : 32113618
Kelas : 1DB04
